Showing posts with label BluEs. Show all posts
Showing posts with label BluEs. Show all posts

CiNta itu...

Cinta? “Cinta adalah sesuatu yang rumit. Jangan menyimpannya dalam hati karena kamu akan sakit.” (Spiderman) Berbicara tentang cinta memang merupakan hal yang kompleks. Tidak ada orang yang dengan sungguh-sungguh dapat mengurai maknanya dengan tepat disertai anggukan semua orang. Seorang teman pernah mengatakan bahwa cinta sebelum pernikahan itu TIDAK ADA. Wow! Kenapa? Tanya aku dengan heran saat itu. Sebab cinta adalah menerima segala kekurangan dan kelebihan dari yang dicintai dengan tulus. Sedang tidak ada momen sebelum pernikahan yang menampakkan kebaikan dan keburukan orang secara sempurna, jawabnya. Sederhana, namun membekas. Aku berpikir, benar juga ya? Yah, aku sendiri mungkin belum pernah merasakan yang namanya cinta. Sebab aku belum melewati gerbang suci bernama pernikahan itu. Tapi aku pernah merasakan suka yang mendalam pada seseorang. Rasanya... pedih. Pedih saat melihat ia bahkan tidak mengingat namaku. Pedih saat ia berbicara dengan cewek lain yang cantik dan manis. Pedih saat ia sedang berjalan dan tidak mengacuhkanku saat melintasiku. Pedih... pedih... Cinta DALAM HATI (mencontek judul lagu grup band UNGU) memang sangat tidak menyenangkan. Aku tenggelam dalam kesedihan cukup lama saat itu. Empat bulan lamanya. Sungguh waktu yang sia-sia! Menyesal? Hemm... Entahlah. Rasa suka itu memang menyebalkan, tapi anehnya, juga manis.

aku dan sahabatku-part2

Ketika aku SD, SMP, aku sendirian. Tidak ada yang datang padaku. Menawarkan persahabatan, ataupun menawarkan mencicipi pahit getirnya kehidupan, indahnya pelangi masalah, dan sejuknya keringat kerja keras bersama. Tapi ketika aku SMU, seseorang itu datang. Ia menawariku persahabatan dengan senyum manis. Awalnya aku menolak, sebab aku terlalu takut dengan manisnya persahabatan. Dinginnya kesendirian terasa lebih baik dari rasa manis yang dapat meracuni, pikirku saat itu. Hanya saja renca Tuhan lebih indah. Ia tetap mengulurkan sahabat itu padaku, dan akhirnya aku—dengan malu-malu—meraihnya. Saat itu duniaku terasa begitu indah. Kami tertawa, tersenyum, menangis, juga bertengkar. Semua bersama. Lalu orang lain mulai datang dalam kehidupanku dan kehidupannya. Tapi aku tetap ingin bersamanya. Maka aku tetap menjaga senyumnya. Juga menjaga kepercayaan, dan cintanya dalam tiap sujud-sujudku. Aku merasa dunia berkembang lebih indah, lebih berasa, dan kurang kejam. Langit lebih biru, bau wangi bunga lebih harum, matahari lebih hangat, dan semua rasa lebih lezat. Persahabatan itu—sayangnya—juga tidak untuk selamanya. Ada saat-saat pasang surut. Jatuh bangun. Dan saat-saat seseorang harus pergi. Waktu itu, aku belum menyadarinya. Hingga hari itu benar-benar datang. Rasanya hening ketika hari-hari itu datang. Tidak ada kebersamaan, tidak ada janji-janji persahabatan, tidak ada diskusi-diskusi hangat, semua hilang bersama waktu. Aku mencoba bersabar. Juga menunggu. Hingga hatiku lelah dan mulai bertanya. Tiap hari aku memikirkannya; adakah ia mengingatku sekali saja sepanjang waktu perpisahan kami? Aku mengingatnya dalam tiap sujud dan penghujung do’aku; adakah ia menyebutku sekali saja dalam do’a-do’anya? Aku sedih, gelisah, dan marah kehilangannya. Tidakkah ia merasakan perasaan-perasaan yang sangat tidak enak ini? Aku menunggu.... sahabatku kembali. Aku menanti janjinya pada kesyahidan bersama di jalanNya. Aku berharap ia merindukanku dan kembali di layar ponselku. Aku berdo’a, untuk melihat senyum manisnya kembali di pintu rumahku.

Indonesia SEhat 2008

aku gak pernah percaya bahwa negeri ini akan sehat. Indonesia ini udah sekian lama sakit. sakitnya pun bukan sekedar sakit lokal. tapi sistemik, nyebar ke semua bagian tubuh. paru-paru, jantung, dan ginjal indonesia ini udah terinfeksi. kapan bisa disembuhkan? sedang kita malah sibuk dengan perayaaan 10 tahun reformasi tanpa menyadari, BAHWA ReFormasi telah terkubur di perkuburan massal tsunami. bersama dengan tulang belulang korban keganasan alam. rasanya hidup di Indonesia sudah sedekimian sesak. Wajar jika para cendikiawan berlomba-lomba membopong kopor ke luar negeri. menjelajahi keindahan Alpen, sejuknya es di kutub utara, eksotisme Sahara dan Gobi tentu lebih memuaskan jiwa dari pada terkepung dalam kemacetan, polusi, dan iring-iringan demonstran. Indonesia ini negeri utopis, untuk para jiwa yang sudah rusak dan kerangka korban peradaban.

Aku dan Sahabatku-part 1

mengapa sangat sulit bagi manusia untuk memilih kebahagiaan? hidup seolah menumpukkan warna-warna kelabu dimanapun mata melirik. sahabatku sakit, apa yang bisa kulakukan? "dokter" yang dia datangi mengatakan ada tiga jin merasuki tubuhnya. "Itu syirik!!!" ingin aku menjerit. tapi aku sendiri tidak dapat mempercayai keyakinanku lebih dari kepercayaan sahabatku pada "dokter itu". suaraku bahkan tidak sampai ke kerongkongan. warna warni persahabatan kami seolah memudar. dimana itu iman? dimana rasa percaya akan Allah dan hari akhir? mataku memanas. teronggokanku pedih. semangatku menyusut. Allah...kami hanya punya Engkau. masih terbayang dalam memoriku, seolah baru kemarin. kami berdua larut dalam keluguan dan kepolosan masa remaja. aku dan sahabatku menjerit ke langit. "Kami akan jadi mujahidah! berjuang untuk palestina, menyosong kesyahidan!" bahkan kini aku tidak percaya pada kepalan tangan dan janji-janji itu lagi. semua samar ditelan paruh waktu.rasanya hanya memori yang masih kami miliki. sahabatku, dengarlah isi hatiku ini.kembalilah...