Doa Sunyi

R
Rasanya sunyi

Benar-benar sunyi disini

Suara-suara samar bergumam

Berdengung membekukan hati yang retak

Hidup hilang dalam gelombang hening

Hanya Tuhan yang mendengar

Yang lain tuli

Hanya Tuhan yang bicara

Yang lain bisu

Masih sunyi di sini

Hari ini, besok malam, besok pagi, dan selamanya

Terus sunyi

Aku tergeragap

Waktuku habis, tapi sunyi?

Masih abadi

BUKU BUKA BUKU, Sampah Peradaban

Adakah keindahan saat hati tidak sejalan dengan otak?

Saat membaca aneka buku "margasatwa" seperti Saman, Larung... otak serasa begitu mendidih dengan aneka rasa nano-nano. Keliaran, jijik, sebel, muak, marah, dll menjadi satu. tumplek blek.

Masya Allah...

Sebenarnya bagi saya, buku adalah pencerah, pengusung peradaban umat. Buku bukan sekedar bacaan ringan saat otak dan otot sudah penat dengan pekerjaan sehari-hari. Buku punya makna yang lebih dari itu. Bahkan buku juga bukan sekedar pemuas fantasi saat masa pubertas dan post-nya terlewati.Jelas bukan! Buku tidak punya arti serendah itu. Yang punya makna serendah itu bukan buku. Hanya kertas bungkus pisang goreng yang dicetak di percetakan, cuma itu.

Karenanya, saya bangga dibilang kutu... eh, PREDATOR BUKU. BANGGA, BANGGAAAA!!!

Tersenyumlah Selamanya

Tersenyumlah selamanya...

Saat itu tangannya menggenggam tanganku. Sulit, sulit untuk melepasnya dalam keadaan seperti ini. Tapi aku mencintainya lillah. Jadi, kehilangan untuk yang lebih baik mungkin tidak mengapa.

Aku ingin menangis. sungguh, ingin. Tapi aku tidak menangis. Sebab bukankah kehilangannya tidak untuk selamanya?

Ah, sungguh tercekat kerongkonganku saat mengingatnya. Saat mengingat ia yang begitu sabar meladaniku curhat, wajah tenangnya selalu menentramkan hati. Ia yang tidak ingin dipanggil dengan gelar sahabat, sebab baginya persahabatan berarti memberi dengan sempurna, sedang ia merasa tidak mampu. Ia tetap ada, saat aku melabuhkan rasa lelahku. Meski aku lalai dari rasa lelahnya, dari sakitnya, ia tidak marah.

Ia yang selalu merasa bersalah terhadapku. Ia yang selalu menyebutku sahabat yang sempurna. Ia yang selalu menyanjungku, seolah aku adalah manusia yang teramat istimewa. Ia yang...

Aah..., berjuta embun, berjuta permintaan maaf, berjuta terima kasih.,.. ingin kuhadiahkan padanya. Sebab ia hadiah dari Allah, ketika aku merangkak dalam kesendirian dan perasaan tidak berharga sebagai manusia.

aku mencintainya, semoga ia juga. Aku berharap Allah akan mempertemukan kami kembali. pada suatu hari dan tempat yang entah. Kami dapat saling tersenyum, dan melihat cita-cita kami menjadi nyata.

Biiznillah...

(Ditulis untuk mengenang sahabatku Fauziah, di bumi manapun kau berada kini. I love u coz of Allah, ukhti)

Oh diriku? Kenapaaa Lemess???

Rasanya lemah.

Tidak bersemangat sama sekali.

AAARGHH!!! Kenapa?! Why? Li maza?
Padahal Ramadhan bentar lagi, tapi semangat gak kunjung muncul.

Mbak Semangat,lagi liburan kemana sih?

Cepat pulang dunk... Pleeaseeee...