Lukisan Sepi

Bagaimana melukis sepi? Kuasku mandek Mataku segaris Cat berbaris sepanjang lantai. Bingung Mungkinkah cukup dengan S-E-P-I? Atau Adakah warna lain yang bisa tergurat? Hening Bening Sendiri Ngilu Warna sepi, adakah? Bantu aku Cerita saja Aku dengar Sebab buntu Asbab rindu Atau sepi itu, Jangan-jangan... K-I-T-A? *saat rindu sekali

(FF) Hati Seorang Anak

"Aku tidak perlu Ayah lagi, usiaku sudah 30 tahun dan aku sudah tahu segalanya."

"Nak," Tampang lelaki berusia 60 tahun-an itu melemas, kakinya mulai bergetar. "Tapi aku ayahmu."
"Mengapa baru sekarang jadi Ayah? Kemana selama 25 tahun ini? Aku hidup tanpa Ayah dan aku baik-baik saja!"
Air mata mulai tumpah, laki-laki itu sesenggukan. Tidak dipedulikannya orang sekitar yang menatap heran. Gadis di depannya masih memandangnya penuh bara.
"Aku pergi."
Hingga sosok gadis itu berlalu, lelaki itu masih menangis. Tak dipedulikannya air mata lelaki yang terlalu mahal. Sebab ia ingin menyesal, sebab ia ingin kembali ke waktu gadis itu masih bisa dibuainya dalam dekapan, juga waktu gadis itu masih menggenggam tangannya untuk naik ke atas vespa mereka.

***

Gadis itu melenguh, tangannya dingin. Berkali-kali ia memaki dirinya dalam hati. Apa arti sejuta pengajian yang telah diikutinya sejak SMA? Apa arti kajian yang telah dibinanya? Apa arti dakwah yang dilakoninya? Dan segala hal yang mengikutinya?

digenggamnya lengan bajunya keras. Matanya menatap ke arah tas yang sedari tadi disandangnya, menembus ke dalam, ke arah kertas merah hati yang terlipat manis di dalamnya.

"Aku telah lama menantimu. Maukah engkau jika kita segera menikah? Temui ayahmu, maafkan ia dan mintalah ia jadi wali nikahmu."

Air mata itu luruh, terus hingga sore menjelang.

Press Release

PRESS RELEASE

klarifikasi kepada siapapun yang telah, sedang, atau akan menuduh saya melakukan diskriminasi gender karena postingan atau komen-komen saya,

Perlu Anda ketahui bahwa Nabi, Rasul, ayah, adik kandung, keponakan, kakek, engkong, encik, abuwa, paman, om, ketua LDK, ketua BEM, ketua PEMA, Presiden, sepupu, tukang ikan, tukang air, tukang pompa, tukang sayur saya semuanya adalah LAKI-LAKI.

Sekian maklumat,

*alahai, lebay that press release nyoe. Bek comment (translate: alahai, lebay banget press release ini, jangan dikoment ya:D)

Cowok=Menyebalkan-Part II (TAMAT)

Nah, melanjutkan info mengenai Cowok=Menyebalkan part I, marilah kita masuk ke part-II.

Nah, ini adalah bagian paling seru yang menyimpan rahasia kelam,
kawan, mari kali ini kita bicara tentang IKHWAN-IKHWAN GENIT!
ah, bahasanya jadi tak enak
mari ganti dengan BAKWAN-BAKWAN GENIT!
*ah, mendadak lapar

nah, apa itu bakwan?
Bakwan ini bukan bahasa Indonesia yang digoreng, ada udang di tengahnya, dan bisa dimakan. Tapi akronim dari Belagak Ikhwan (BAKWAN)

Kawan, maafkan kalau postinganku kali ini agak kasar,tidak mengenakkan hati, dan mungkin terkesan menyudutkan beberapa kelompok, komunitas, atau manusia dengan ciri-ciri tertentu.
Nah, apa itu ikhwan?
kembali lagi ke maknanya dalam Bahasa Arab, ikhwan adalah bentuk jamak dari akhun yang berarti saudara laki-laki.
Nah, kalau di Indonesia, ikhwan itu mengalami penyempitan makna sehingga diterjemahkan secara sembrono menjadi laki-laki yang shalih dan memiliki pengetahuan agama yang cukup, aktivis, dll.

Ciri-ciri gak pentingnya pernah saya tulis di sini: PELAJARAN TENTANG IKHWAN
Yang ingin baca hal2 gak penting, silakan klik saja.

Nah, masuk ke poin-poin yang SANGAT AMAT tidak penting. Ini adalah tentang Bakwan Genit
Pertama yang harus dipahami, klasifikasi BAKWAN (Belagak Ikhwan) atawa IKHROH (Ikhwan Sepotong) tidak ada dalam Al-Qur'an. Ini bukan fatwa ulama dan bukan ketetapan dari Allah. So,jgn berdebat tentang hal-hal tidak penting ini *mengangguk2 sendiri

Yang jelas, aku punya kenalan beberapa orang. Tidak banyak sih, karena memang males rasanya bicara dengan BAKWAN, apalagi bulan puasa. Takut malah batal karena jadi pengin makan..

Dan aku menyimpulkan dengan hipotesa bahwa mereka adalah BAKWAN Genit dengan klasifikasi berikut:

Stadium I: dari bicara penting, suka banget dipanjangin jadi gak penting. Misalnya:
X: Akhi, maaf bisa bantu print ini?
Y: apa? yang mana?
X: yang ini, judul filenya "Ikhwan Genit"
Y: oo...trus diapain?
X: diprint, akh
Y: berapa lembar:
X: 17 lembar
Y: pake warna?
X: pake
Y: kertas ukuran berapa?
dst dll...

ntar nanti ada ujung2nya, misalnya: kalau ukuran segini gmn? kalau gini? Intinya masih dalam konteks, tapi panjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang banget. Kadang jadi sulit bedain dengan orang yang rada bolot *alahai,istilah apalagi ini.

Stadium 2, ini masih lumayan juga. Tapi rada ngebetein. Karena suka pakai aksesoris tidak perlu dalam berkomunikasi, mudah terdeteksi. Misalnya kalau SMS-an, pasti ada smiley di ujungnya dan sering banget SMS hanya utk bilang yang sebenarnya g usah dibilang pun gak apa. Semisal: sykran:), Afwan:), Iya:), tidak apa2....:)
dst

Stadium 3, ini yang rada nyebelin. Kalau SMS awalnya penting, tapi buntutnya urusan gak penting dan out of the topic banget. Misalnya:
SMS: jadi besok acaranya gini ya ukh.bla bla bla bla... Tapi meski sibuk jangan lupa makan ya.hehehehe...:) Nah, ini yang asli nyebelin dan garing banget. Benar-benar asli nyebelin dan mau rasanya melempar kompor, sendal, sepatu, kemoceng, ayam, bebek, angsa, dll ke arah BAKWAN GENIT pelaku.

Nah, stadium 4 alias yang ASLI BUANGET NYEBELIN tak terkira. Suka bicara gak penting, SMS gak penting, telepon gak penting. Atau yang penting cuma 1 baris, 20 barisnya gak penting. Juga suka ngelihat blog atau FB dan koment gak penting di status.

Misalnya: "Bagus ya postingannya.", atau "Numpang senyum ya:)", atau "^_^" atau kalau SMS isinya, "Tahajud yuuuk" "Kamu mirip beruang deh..". kalau ngomong awalnya tentang acara, atau agenda syar'i, beriktnya sudah ada kalimat2 "hehehhe"

dst...

BAKWAN2 GENIT ini sulit ditebak, dan seringnya membawa orang-orang yang menjadi korbannya terbawa suasana. Karenanya, kehadirannya patut diwaspadai dan dibasmi dari muka bumi.

Sekian!

TAMAT

*Sebenarnya tulisan ini lahir dari cinta saya pada teman-teman ikhwan. Cinta yang saya yakin telah terikat oleh Rabithah.
Meski nadanya mungkin rada kasar dan provokatif. Saya menyadari bahwa tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, termasuk kami, para muslimah. Hanya saya sering gerah dengan sikap para ikhwan yang sebenarnya saya selalu harapkan lebih paham dari saya sendiri. Karenanya, saya sangat tidak rela jika ada ikhwan BAKWAN yang membuat hati kami para muslimah jadi menggelepar-gelepar dengan tingkah genit itu. Kawan, tahukah kalian bahwa hati seorang perempuan itu sangat rentan?

Mari kita sama-sama introspeksi diri. Dakwah ini terlalu indah untuk dikotori dengan kegenitan seperti itu. Jangan biarkan hijab itu terurai sebelum ijab kabul.

Maafkan jika menyinggung *mendadak normal lagi