Nabi Yang berlumuran darah (cerpen)

Pada malam kematian istriku, sekali dalam hidupku aku mencoba melihat Tuhan. Mencoba bicara padaNya, dan merasakan keberadaanNya. “Tuhan.” Bisikku saat itu. “Dimanakah kau berada?” Lalu aku seolah merasakan bisikanNya, lalu sunyi kembali menjelma. Inilah titik balik dalam hidupku. Kutanggalkan topeng, sarung tangan berlumuran darah, lalu pisau, pistol, dan etah senjata apa lagi. Kutinggalkan semua. Aku merasa ingin kembali pada Tuhan,menghapus jejak berdarah yang telah membekas puluhan mil dibelakangku. Aku ingin hidup dalam kedamaian bersamaNya. Kuikuti kembali jejak keluarga besarku yang kini telah damai di surga. Mengikuti ajaran Kristen Advent, kembali ke salib, sanctuary, dan pembaptisan. Aku seolah telahir kembali. Suci bagai bayi yang baru dilahirkan. Namun Tuhan belum membiarkanku tenang. Takdirku masih dibiarkanNya berjalan ke titik semula. Ke titik yang sama. “Bekerjalah pada kami.” Wajah putih simpatik itu berkata padaku. Senyumnya culas. “Aku bukan pembunuh.” Ujarku dalam. “Setidaknya sekarang aku bukan pembunuh lagi.” “Kenapa?” Aku menunduk, “Tuhan telah memanggilku kembali.” Wajah tersenyum itu tidak berubah,”Kalau begitu bekerjalah pada Tuhan.” “Dengan membunuh?” “Ya.” Mata lelaki itu menatap tepat ke pupilku.”Membunuh musuh Tuhan. Seperti Nabi yang membunuh iblis.” Kutatap wajah dingin itu. Senyumnya seolah seringai, tapi kata-katanya seolah benar. Ya, Nabi memang membunuh iblis. Para kekasih Tuhan juga membunuh, hanya saja mereka membunuh untuk mengabdi pada Tuhan. Maka kuterima uluran tangan lelaki itu. Dan pistol, pisau, dan entah apa lagi—para teman lamaku—dikembalikan kepadaku. *** Hidupku kembali bergulir dalam irama yang sama. Hanya saja seolah semua menjelma menjadi kebenaran. Menjadi ibadah seorang hamba yang taat pada Tuhan. Semua yang mati di tanganku kini adalah iblis; para koruptor, pembunuh berantai, pemerkosa, Bandar narkoba… ya, mereka semua iblis yang tak tersentuh hukum. Jadi membunuh mereka bagiku pekerjaan mudah, karena aku tahu bahwa Tuhan bersamaku. Hingga saat itu datang, ketika aku merasa Tuhan berpaling dariku. Kulihat tubuh bersimbah darah di hadapanku. Wajahnya suci, janggutnya tebal dan keningnya berwarna kehitaman. Wajah bekunya tidak menampakkan rasa sakit sedikitpun karena terjangan peluruku. Ia hanya… tersenyum. “Apa kesalahannya?” aku bertanya pada lelaki berwajah beku itu. Ia kembali menyerigai. “Meneror masyarakat. Teroris….” Bukan, bisik hatiku. Kali ini aku tak melihat kebenaran dalam kata-katanya. Ia berbohong, aku tahu itu. Wajah teroris bukanlah wajah malaikat. Sosok itu memiliki wajah dan sayap malaikat. Bahkan sekilas, wajahnya seperti Yesus Kristus. Aku pasti telah melakukan kesalahan. Aku telah membunuh malaikat! Aku menatap wajah di depanku yang kini seolah telah menjelma menjadi wajah iblis. Lalu dalam satu gerakan, ia terbanting ke tanah. Aku seolah melihat wajah Tuhan menjelma kembali di dekatku saat wajah iblis lelaki culas itu melotot dengan urat meregang penuh. Hanya sesaat, lalu wajah Tuhan kembali memudar, dan aku tahu bahwa aku harus pergi jauh untuk menemukannya kembali. *** Wajah baru, identitas baru, dan nama baru tidak berarti takdir baru. Takdirku masih berputar dalam lingkaran setan yang sama. Hanya saja kali ini gelarnya terhormat: eksekutor. Teman-temankupun berganti. Bukan lagi pisau dan pistol. Melainkan kursi listrik atau kadang-kadang jarum suntik berisi cairan beracun yang tidak begitu kumengerti. Namun aku lega, karena tugas ini adalah mulia. Aku benar-benar membunuh iblis sekarang, bukan hanya untuk Tuhan, tapi juga untuk Negara. Waktu berlari, tapi Tuhan belum kembali. Setiap aku menarik tuas kursi listrik itu, aku berharap melihatNya sebelum wajah kesakitan itu membeku. Tapi Ia tetap tidak hadir, yang kusaksikan hanya malaikat maut yang melesat datang dan pergi. Dimana Engkau, Tuhan? Aku memutuskan untuk bersabar. Kucoba kembali mencariNya di tempat-tempat suci. Kutinggalkan kursi listrik dan suntikan untuk sementara. Aku berkelana dari satu gereja ke gereja lain, dari satu kapel ke kapel lain. Kulakukan perjalanan spiritual menjelajahi tempat-tempat suci. Aku hadir dalam tiap misa, kebaktian, pengakuan dosa, dan entah upacara seremonial apa lagi. Aku berharap melihatNya di belakang pastur yang tengah berkotbah, ataupun dalam nyanyian-nyanyian agung yang menggetarkan kubah gereja dan salib di atasnya. Tapi Ia tak kunjung jua kutemukan. Hingga aku lelah. Maka aku meninggalkan ajaran warisan keluargaku. Kucari jejak lain; vihara, pura, klub malam, hingga gereja Setan. Terus berjalan. Kadang berlari, kadang merangkak. Menuju Tuhan. Tapi Tuhan tetap enggan berpaling padaku. Hingga gaung kebebasan mulai berbunyi. Mata dunia terpana saat menara kembar runtuh. Di sanalah aku bergerak berbalik. Kembali ke titik awal. Berbicara pada Tuhan. Ia yang murah hati, memberiku warna pemahaman baru. Tak ada salib, tak ada kapel, tak ada misa. Asyhadu alla ilaaha illallah… *** Kupikir pengembaraanku untuk mencariNya telah usai. Hari-hariku kuisi dengan ibadah kepadaNya. Aku seolah dapat melihatNya setiap butir tasbihku berderak. Ataupun saat sajadahku basah, berlumuran air mata dan sedikit ingus. Aku berharap Ia rela padaku. Aku berharap wajahNya tersenyum padaku. Aku berharap dosaku diampuni. Aku hidup hanya untukNya sekarang. Kemudian dia datang. “Ini tugas mulia.” Bisiknya. “Aku telah menemukan Tuhan.” Balasku.”Aku tak mau kehilanganNya lagi.” “Tapi Ia memerlukanmu, memanggilmu…” Aku tercenung, wajah putih bersih di depanku tampak serius. Aku tahu ia tidak berbohong. “Aku telah berhenti.” Kutegaskan kalimatku. “Jika begitu, siapakah lagi yang dapat dipanggil Tuhan untuk membela agamaNya di muka bumi?” Aku terdiam. Lagi-lagi kulihat kebenaran. Kali ini aku kembali mengangguk. Tak ada lagi tanya. Tuhan telah memanggilku, maka aku harus bergegas. *** Saat aku resah, aku memanggil nama Tuhan. Kusebutkan nama-namaNya yang agung, dan terdiam saat damai meresap dalam tiap bagian diriku. Kali ini aku akan kembali ke titik takdirku. Namun tidak seperti sebelumnya, kali ini aku kembali bersama Tuhan. Jadi aku tidak takut, sedikitpun tidak takut. Kuraih kameraku. Ini adalah tugasku. Tugas yang diberikan redaksi majalah tempat aku bekerja sekarang. Namun ini bukan tugas dari Tuhan. Tugas dari Tuhan kali ini adalah tugas terakhirku. Setelah selesai, aku akan kembali bersamaNya. Mengisi malam dengan sujud dan siang dalam pengabdian. Berharap melihat wajahNya tersenyum saat aku menyelesaikan tugas ini setelah berbulan-bulan menunggu. Kugesekkan kedua kakiku. Merasakan logam dingin di balik kaus kakiku, yang hampir saja ditemukan dariku saat pemeriksaan, jika saja ayahku tidak mewariskan wajah Yahudi dan kepintarannya padaku. Sebentar lagi… Saat pintu limousine itu membuka, kusaksikan wajah ramah dengan uban memenuhi kepalanya. Tersenyum dan melambai pada kerumunan. Alis tebalnya, hidung mancungnya… sekilas mirip wajahku. Ia jagal manusia. Atau jagal muslim. Darahnya halal. Tuhan memberitahuku. Lusinan laki-laki berbaju hitam melingkar mengelilinginya. Tapi tak masalah bagiku. Aku tahu apa yang harus dilakukan. Dan betapa sempit waktu yang kumiliki. Kurasakan dingin besi di tanganku. Hanya dalam satu kokangan senjata, aku mendengar orang-orang menjerit. Lalu tubuh berlumuran darah segar terjatuh, sepersekian detik setelah bunyi tembakan. Matikah ia? Jika ya, mengapa malaikat maut tidak tampak untuk merenggut topeng iblisnya? Kurasakan merah menyembur semakin deras. Hangat hingga wajahku. Pistolku terlempar jauh. Ada tangan dengan kuku-kuku panjang—tangan iblis—memungutnya. “Terrorist!” kudengar seseorang berteriak di kejauhan. Aku melayang dalam de javu di tengah sakit yang kurasakan. Seperti laki-laki malaikat yang terkapar dengan senyum itu. Bahkan aku kini juga teroris, sama sepertinya. Bisakah aku mati sepertinya? Sedangkan Tuhan telah memilihku, tapi aku gagal. Dalam pandanganku yang mulai buram, kusaksikan wajah-wajah iblis bertanduk menodongkan senjatanya ke arahku. Mereka menyerigai. Kucari wajah Tuhan, berharap melihatNya. Agar lenyap segala takut, lenyap segala ragu. Marahkah Ia kepadaku? Tuhan di atasku. Ia tersenyum. “Allah…” Terima kasih telah memilihku.

0 comments: